Aku Jadi Piala Bergilir 2.

Aku banyak menanyakan istilah golf yang kudengar tadi, dan dengan penuh kesabaran dia menerangkan aturan aturan dasar permainan golf, termasuk arti istilah itu dan cara penilaiannya diselingi ciuman ringan pada leher dan dadaku. Sebagian kupahami tapi tidak sedikit yang terlupakan, maklum begitu banyak pelajaran yang kuterima dalam waktu singkat, ditambah lagi tangan Pak Bambang yang selalu rajin menjamah tubuhku sambil menerangkan tadi. Tubuhku sudah merosot di antara kakinya setelah dia selesai menjelaskan tentang golf, handuk penutupku telah lama melayang ke ranjang, giliran aku membuktikan one in hole pada permainan lain, bukan hole in one. Pak Bambang melihat sambil mendesis ketika penisnya meluncur keluar masuk mulutku sembari mengelus mesra rambutku.
“Udah udah, ntar aku kebablasan” katanya lalu berdiri menuntunku ke ranjang.

Aku telentang pasrah menanti cumbuannya, tapi dia malah membalik tubuhku dan memintaku pada posisi merangkak. Vaginaku terbuka lebar menghadapnya, mengundang menanti kehangatan penisnya mengisi liang sempitku, dia tidak langsung memasukkan penisnya tapi menciumi pantat dan vaginaku terlebih dahulu. Kembali kurasakan gerakan penuh perasaan saat penisnya masuk menyusuri dinding dinding vaginaku, begitu pelan hingga kurasakan seperti suatu perjalanan panjang menembus lorong lorong kenikmatan. Aku mulai mendesah ketika Pak Bambang mengocokku dengan iramanya yang berkombinasi cepat dan pelan, sesekali diselingi sodokan keras mendadak yang membuatku menggeliat kaget.

Kocokan demi kocokan, remasan demi remasan dan desahan demi desahan mengiringi permainan kami yang sama sama berusaha merengkuh kenikmatan duniawi, terlupakan sudah pembicaraan tentang istrinya saat aku masih dalam pelukannya tadi, terlupakan sudah permintaan anaknya yang ada di Jogja, kami berusaha untuk saling memberi kenikmatan. Tak lebih 5 menit kemudian Pak Bambang kembali menggempur vaginaku dengan denyutan denyutan nikmat, jeritanku beriringan dengan jerit kenikmatannya, dan dia langsung ambruk menindih tubuhku yang sudah tengkurap di ranjang. Desah napasnya menderu hebat ditelingaku, kubiarkan sejenak sebelum kuminta turun karena aku tak bisa bernapas.

Akhirnya kami tertidur berpelukan dalam keadaan telanjang tak lama kemudian, dia tak berani tidur terlalu malam karena besok masih harus mempertahankan piala kemengangannya.
“Aku harus mempertahankan kamu di kamar ini besok, jadi perlu istirahat yang banyak untuk jaga kondisi” pesannya sebelum terlelap.

Hari Kedua

Kami terbangun oleh morning call keesokan paginya, jam masih menunjukkan pukul 5 pagi, terlalu pagi bagiku untuk bangun tapi aku tak bisa menolak. Untuk mempersingkat waktu kami mandi bersama, dia menolak ketika kupancing untuk bercinta di kamar mandi.
“Ntar loyo dan nggak bisa menang, kita lakukan saja ntar sore, janji, makanya doakan aku menang” katanya penuh optimis bisa mempertahankan “pialanya”.

Pukul 6:35 kami sudah berada di Coffe shop, ternyata mereka sudah lengkap menunggu kedatangan Pak Bambang.
“Ini dia sang juara bertahan, sudah biasa kalo juara bertahan datang belakangan” goda Pak Ade.
Mereka hanya memesan bubur ayam atau sandwich, sekedar mengisi perut sebelum bertanding. Sering kulihat mereka memandangku dengan pandangan yang aneh seakan menelanjangiku, entah apa yang ada dalam pikirannya, mungkin juga mereka membayangkan apa yang telah Pak Bambang lakukan pada gadis yang seusia anaknya ini, tapi aku tak peduli, toh pandangan seperti itu sudah sering kali kualami.

Akhirnya mereka meninggalkan “Piala Bergilir” sendirian di hotel, untuk diperebutkan kembali pada hari kedua. Pak Bambang sempat mengecup kedua pipiku dihadapan rekan rekannya sebelum masuk ke mobil. Sepeninggal mereka, aku kembali ke tampat kost melanjutkan tidurku yang terpotong. Aku sama sekali tidak memikirkan siapa yang akan memiliku pada hari kedua ini, toh siapa saja dari mereka bagiku sama saja.

Pukul 11 pagi aku sudah keluar dari tempat kost, hari ini aku sudah menerima dua booking-an, pertama di Palm Inn dan nanti jam 2 siang ke Hotel Novotel di daerah Dinoyo. Kupacu mobilku menuju Palm Inn di kawasan Mayjen Sungkono, tempat yang terpencil, ideal bagi laki laki yang selingkuh. Para room boy yang sudah hapal dengan mobilku segera berlarian menyambut kedatanganku, mereka sudah hapal kegemaranku yang selalu mencari kamar yang di pojok karena kamarnya lebih bagus dan luas, soal tarip yang lebih mahal bukanlah urusanku karena tamuku selalu membayar harga kamar tanpa banyak tanya.

Limabelas menit aku menunggu kedatangan tamuku, kuminta salah seorang Room Boy yang sudah cukup akrab kukenal untuk menemaniku sebentar, dari dia aku tahu selama ini banyak tamu yang mencari aku atau GM yang menanyakan nomer HP-ku, tentu saja aku tak mau berhubungan dengan GM kelas teri yang banyak beredar di tempat tempat seperti itu, bukan kelasku. Akhirnya tamuku datang juga setelah rokok ketiga habis kuhisap, kuminta Room Boy tadi memindahkan mobilku ke tempat yang sejuk dan memasukkan mobil tamuku ke garasi yang aman tertutup.

Tamuku ini adalah salah seorang pelanggan tetapku, jadi sudah seperti teman yang sudah lama. Sebenarnya lebih enak melayani pelanggan seperti ini, sudah sama sama tahu irama permainannya, jadi tak perlu menebak kemauannya, semua berjalan alamiah tanpa ada keterpaksaan, bahkan tak segan untuk mencoba sesuatu yang baru, entah berasal dari fantasi atau dari melihat film.
Namun demikian bukan berarti menghadapi tamu baru tidak ada enaknya, justru seninya terletak pada cara membaca gaya permainan mereka, sensasinya jauh lebih tinggi.

Kuhabiskan hampir 1.5 jam untuk 2 babak percintaan dengan tamu pertamaku, seperti sudah menjadi perjanjian tak tertulis bahwa untuk Short Time berlangsung minim 2 babak, jarang yang kurang atau lebih. Tidak terlalu melelahkan karena tiap babak tidak lebih dari 10 menit, itu sudah rata rata, hanya beberapa saja bisa dihitung dengan jari yang bisa bertahan setengah bahkan lebih satu jam nonstop atau bahkan semalaman hingga pagi.

Dengan alasan ingin istirahat, aku tinggal lebih lama di kamar itu setelah tamuku pergi. Kuhubungi GM yang mengatur dengan tamu keduaku untuk ketemu sekarang, lima menit kemudian dia menyatakan persetujuannya. Setelah ganti baju dan pakaian dalam (aku sudah terbiasa membawa 3-4 set baju dan pakaian dalam di mobil), mobilku meninggalkan Palm Inn meliuk liuk disela kemacetan jalanan Surabaya menuju Hotel Novotel.

Jam 1 lebih dikit mobilku sudah memasuki pelataran parkir hotel, kutuju kamar yang disebutkan GM tadi, kulewati kolam renang di depan kamar kamar yang menyerupai cottage, tak ada orang yang berenang di siang hari seperti ini. Tamuku kali ini adalah lagi lagi seorang chinese, usianya sekitar 48 tahun, tubuhnya ceking dengan kacamata minus menghiasi wajahnya, terlihat begitu kolot, aku jadi teringat pada salah satu tamuku pada saat awal awalku di Hilton, saking kolotnya sampai sampai dia mengenakan celana kolor, bukan celana dalam pada umumnya (bagi pembaca yang mengikuti ceritaku sejak awal pasti mengetahuinya). Tanpa membedakan bentuk fisik yang ada, kulayani dia sama seperti tamuku lainnya, kecuali kalo ganteng dan aku benar benar menyukainya, maka ada pelayanan yang lebih karena aku juga ingin memperoleh kenikmatan darinya.

Mula mula dia menggumuli tubuhku, menciumi seluruh organ intim yang ada, tapi dia selalu menolak setiap kali kucoba memasukkan penisnya ke vaginaku. Aku bingung karena tak tahu maunya, akhirnya kusadari bahwa dia ingin kukulum hingga mencapai klimaks, meskipun tak pernah terucap tapi dari pengalaman aku bisa membaca kemauannya. Tanpa kesulitan yang berarti aku bisa membuatnya orgasme dalam waktu 5 menit permainan oral, kuusapkan penisnya pada kedua buah dadaku dan dia tersenyum puas.

Babak selanjutnya berlangsung 20 menit kemudian, dia hanya bertahan mengocokku pada 3 menit pertama, selanjutnya aku diminta melakukan oral hingga keluar seperti sebelumnya, ternyata perlu waktu lebih lama untuk membikinnya orgasme kedua dengan oral. Sebagai seorang profesional tentu saja aku tak boleh cepat menyerah, berdasar pengalaman, kutambah rangsangan dengan mengelus elus dan menjilati kantong bolanya, dan ternyata effektif, beberapa saat kemudian dia menggapai klimaks dan menyapukan di wajahku saat penisnya berdenyut, memuntahkan sedikit cairan ke mukaku. Kuterima amplop coklat berisi uang pembayaran jasaku dan kumasukkan ke tas Eigner.

Matahari masih bersinar terang saat aku keluar dari Hotel Novotel, masih lama sebelum ke Hotel Mercure, paling tidak ada waktu 4 jam lagi. Kuarahkan mobilku menuju Tunjungan Plaza, sekedar belanja baju, pakaian dalam dan lingerie, aku paling senang koleksi pakaian dalam dan lingerie yang sexy karena akan menunjang langsung penampilanku di mata tamu.

Kuhabiskan uang hasil pembayaranku tadi untuk membeli beberapa potong kebutuhanku dan parfum, ternyata masih tidak cukup, hingga aku harus menggunakan credit card. saat aku memilih pakaian dalam, HP-ku berdering, dari GM yang mengatur acara di Mercure, dia memintaku datang jam 4 langsung ke Shang Palace di Hotel Shangri La, aku iyakan saja, berarti waktu shoppingku berkurang, tinggal kurang dari 2 jam lagi. Lima menit kemudian HP-ku kembali berdering, dari salah seorang tamu langganan lainnya, dia minta aku menemaninya nanti malam, tentu saja kujawab nggak bisa karena sudah ada janjian dengan seseorang. Dia memohon seperti orang yang mau mati kalau tidak tidur denganku, tapi komitmentku harus kujaga apalagi dengan bookingan paket seperti ini, jelas uangnya jauh lebih besar dibandingkan yang hanya semalam, terpaksa kutolak ajakan nginapnya.

“Aku lagi di TP ini kalau mau sekarang aja di HT” jawabku bergurau dengan mengajaknya di Hotel Tunjungan yang hanya bersebelahan dengan TP.
Diluar dugaan dia setuju dan segera meluncur.
“Oke, 15 menit lagi ketemu di Lobby” jawabnya langsung menutup teleponnya.
Giliran aku yang bingung karena tidak menyangka dia akan setuju, segera kubayar semua belanjaanku dan bergegas menuju HT dengan jalan kaki. Sebenarnya waktu yang tersisa masih lebih dari cukup untuk melayaninya, tapi karena aku harus berada di Shangri La jam 4 nanti tentu waktunya sangat mepet, namun aku sudah terlanjur buat janji maka terserahlah apa kata nanti. Kutitipkan barang belanjaanku di Concierge yang sudah aku kenal, karena seringnya berkunjung ke hotel itu, dan kutunggu si Joni, nama tamuku, di Lobby. Dia datang tak lama kemudian karena memang kantor atau tepatnya tokonya di Kedung doro.
Setelah dia check in dan kuambil barang belanjaanku di concierge, kami menuju kamar hotel.

Kamipun melakukan gerak cepat, tanpa kata kata setibanya di kamar langsung berciuman sambil saling melucuti pakaian. Kami bercinta di atas karpet di depan pintu, hanya beralaskan handuk, aku tak peduli jika desahan nikmatku terdengar dari balik pintu karena kocokan dia memang begitu nikmat, apalagi setelah melayani 2 tamu tanpa orgasme. Karena sudah terbiasa dengan Joni, akupun tak segan untuk memintanya dalam berbagai posisi, masih tetap di atas karpet. Akhirnya aku mendapatkan orgasme darinya secara bersama sama, jeritanku begitu keras menggema, seakan menumpahkan segala perasaan yang terpendam sejak tadi.

Babak kedua kami lakukan di atas ranjang 15 menit kemudian, kali ini berlangsung cukup lama, mungkin 30 menit atau lebih tapi terasa begitu cepat karena kami sama sama melakukannya dengan penuh gairah. Tak kuhiraukan dering teleponku yang berbunyi nyaring, aku tahu itu pasti dari si GM. Akhirnya akupun terkapar setelah 2 kali orgasme menyusulnya. Masih sempat kuhabiskan sebatang Marlboro sebelum aku mandi.

Aku terkejut ketika melihat jam, ternyata sudah pukul 4 kurang 10 menit, tak mungkin aku bisa sampai di Shangri La tepat waktu, rupanya aku terlalu terlena dalam ayunan kenikmatan Joni. Meskipun dia agak kecewa karena harus check out cepat cepat tapi dia bisa memahami keadaanku, setelah berganti kaos dan pakaian dalam yang baru saja kubeli tadi, kamipun keluar kamar dan check out sama sama.

Diperjalanan kuhubungi GM-ku dan minta maaf karena ketiduran, dia sedikit marah dan minta aku segera meluncur. Jam 4.20 aku sudah berada di lobby Shangri La, langsung turun ke Chinese Resto. Mereka sudah mulai makan tanpa menunggu kehadiranku, sepertinya dari Ciputra mereka langsung kemari. Aku minta maaf atas keterlambatanku tapi rupanya mereka tak terlalu mempersoalkan, akupun segera duduk bergabung dengan para golfer itu. Ketika kulirik ke arah Pak Bambang, terlihat raut kekecewaan di wajahnya, sepertinya dia harus merelakan Pialanya jatuh ke pelukan laki laki lain. Siapa? inilah yang aku tidak tahu dan baru kuketahui sesaat sebelum masuk kamar nanti, seperti kemarin. Kali ini sedikit banyak aku bisa mengikuti pembicaraan mereka karena ajaran dari Pak Bambang kemarin, tapi masih saja tak bisa menebak siapa pemenangnya di hari kedua.

Selesai makan kami kembali ke Hotel, Pak Ade ikut di mobilku, sepanjang jalan kucoba memancing siapa pemenangnya tapi dia tidak memberi jawaban pasti, jadi aku masih harus menunggu lebih lama. Pak Ade menggandengku memasuki Lobby hotel, aku yakin dialah pemenangnya, ternyata salah, dia menyerahkanku ke Pak Bambang, berarti dia dapat mempertahankan kemenangannya, berlima kami memasuki Lift.
“Pak Napitupulu, kuserahkan piala bergilir ke anda, tapi mungkin besok akan kurebut kembali” kata Pak Bambang menyerahkanku ke rekannya, Pak Napit, bagitu panggilannya adalah pemenang dihari kedua.
Pak Napit menyalami Pak Bambang dan menerima uluran tanganku, dikecupnya kedua pipiku seperti sang juara yang mencium piala kemenangan. Kami semua tertawa dan tepuk tangan di dalam Lift.

Kamar Pak Napit berseberangan dengan Pak Bambang, selintas kulihat Pak Bambang melihat kami saat masuk ke kamar, seperti tak rela pialanya di ambil alih si juara baru.
“Kamu santai aja dulu aku mau telepon ke Jakarta” katanya dengan dialek batak yang kental
Sepuluh menit dia menelepon ke rumah, sepertinya sebuah keluarga yang “bahagia”, aku membuat dua cangkir teh hangat.
“Biar nggak mengganggu lagi nanti” katanya setelah menutup HP-nya.

Pak Napit adalah orang yang paling senior diantara mereka, usianya beberapa tahun lebih tua dari Pak Bambang, mungkin 62-63 tapi wajahnya yang keras terlihat masih segar dan kelihatan lebih muda dari rekannya itu, apalagi postur tubuhnya yang langsing dan terjaga.

Pak Napit melepas kaos dan celananya, meninggalkan celana dalam dan kaos singlet.
“Lho kok belum dilepas, apa perlu aku lepasin” tegurnya sambil menyalakan Dji Sam Soe kreteknya.
Aku jadi malu sendiri.
Dia membantuku melepas kaos yang baru aku beli tadi, begitu juga dengan celana Jeans-ku.
“Wah bagus betul body kamu, apalagi bikini yang kamu pakai, bisa bisa aku tak bisa bangun lagi besok pagi” komentarnya setelah melihat tubuhku yang terbungkus bra merah berenda semi transparan.
Dialek bataknya begitu kental terdengar lucu seperti pelawak yang sedang naik panggung.

www dientot bergilir (29)cerita dientot bergilir (13)Kontol pak bambang (11)