Mafia Itu Juga Memerkosa Saya
Namaku Yohana, 17 tahun. Suatu malam saat aku pulang kursus pelajaran, aku diculik oleh segerombolan pria. Mereka membawaku ke suatu rumah dan memperkosaku sesudah memberiku obat anti-hamil. Aku sempat mendengar mereka merencanakan penjualan diriku ke Jepang.
Aku putuskan untuk mendobrak salah satu pintu. Kudobrak pintu depan tempat mereka keluar masuk tadi. Usaha pertamaku sia-sia. Kukumpulkan tenagaku dan kucoba dobrak sekali lagi. Namun tetap tanpa hasil. Aku sudah sangat kelelahan walau hanya mendobrak pintu itu dua kali. Aku terduduk lemas bersandar pada pintu itu. Dingin sekali disini, pikirku. Wajar sajalah, pakaian yang diberikan geromboran itu benar-benar minim dan tipis. Kulihat sebuah cermin terpampang didepanku. Mereka pasti sengaja meletaknya, pikirku. Kupandangi diriku sendiri yang ada di cermin itu. Aku benar-benar memalukan, pikirku. Aku bahkan dapat melihat pentilku sendiri dari cermin itu karena tipisnya baju yang kukenakan sekarang.
Aku berdiri ingin melihat sosokku secara keseluruhan. Kuperhatikan daerah selangkanganku yang samar-samar terlihat. Rok mini ini juga sangat tipis, pikirku. Aku berputar ingin melihat sosokku dari belakang. Kuperhatikan bagian pantatku. Astaga, pikirku, rok ini pendek sekali. Pantatku yang memang tergolong besar bahkan tak dapat tertutupi seluruhnya. Tanpa sadar Aku mulai berpose seperti seorang model pakaian renang. Kuperhatikan tubuhku dengan pakaian tipis itu bergaya dengan pose yang erotik. Oh, pantas saja mereka sangat tertarik denganku, aku bergumam kecil. Mereka pasti sangat suka payudaraku, aku kembali bergumam seperti berbisik sambil kupegangi dadaku yang masih terasa nyeri. Rasanya payudaraku sedikit lebih besar dan elastis.
Tiba-tiba saja pintu dibelakangku ini didobrak. “HAAAH!” Jeritku kaget sekali. Kulihat 5 orang mengenakan pakaian serba hitam bagaikan mafia, lengkap dengan kaca mata hitamnya. Aku tertegun. Kuperhatikan dua dari mereka orang Jepang, dan sisanya warga Indonesia. “Informasi bagus, Sniffer.” Orang yang paling belakang bergumam. Kedua orang Jepang tadi langsung mengoceh dengan bahasanya. Mata mereka tertuju pada payudaraku. Mereka pasti bukan segerombolan dengan pria-pria tadi, pikirku. “Nona,” kata orang yang paling depan, “mari ikut kami.”
“Tidak!” aku menolak. Berikutnya aku berlari menuju pintu yang sudah rusak itu. “Tanker!” orang yang tadi berteriak. Segera saja seseorang berbadan sangat besar menerkam tubuhku. Aku tertangkap. “Lepaskan aku! Toloooong!! Aku diculik! Tolong!” aku menjerit. Orang berbadan raksasa itu kini menggotongku keluar ruangan. Orang-orang yang lain bergerak mengikuti. “Hahaha! Tak akan ada orang yang akan mendengarmu, bodoh!” si Tanker berteriak dengan suara beratnya. “Daerah ini jaraknya 5 kilometer dari pemukiman.” Tambah seorang yang lain. Orang-orang lainnya hanya cengengesan. Aku benar-benar terkejut. Mereka berjalan terus menggotongku entah menuju kemana. “Tamu-tamu di Yokohama Royal Hotel pasti akan puas dengan pelayanan pelacur seperti ini!” seseorang yang paling pendek berkata.
“Itu tak akan terjadi!” tiba-tiba ada suara dari belakang. Kulihat pria-pria yang tadi memerkosaku kini berdiri mengepung kami dengan berbagai senjata. “Hahaha! Pelacur ini sudah jadi milik kami!” si Tanker menjerit lagi. Kulihat orang-orang yang lainnya mengeluarkan pistol dari saku mereka. Aku takut sekali. “Serang!!” Segera saja gerombolan pemerkosa tadi menerkam kami. Suara tembakan pun kemudian riuh terdengar. Aku terjatuh dan berusaha bangkit. Ini kesempatan, pikirku. Sambil merangkak aku pun berusaha kabur. Upayaku berhasil. Aku berhasil lolos dari mereka dengan bersembunyi disemak-semak. “AAAARGGH..!!” kudengar jeritan mereka dari jauh. Aku merinding karena kedinginan dan ketakutan. Kuperhatikan pertarungan mereka. gerombolan pemerkosaku tadi sepertinya tidak menyentuh kelima orang tadi. “HAHAHAHA!” kudengar suara khas Tanker “AKU SUKA MEMBUNUH!”
Tak berapa lama sesudah itu, kelima orang itu sudah menghabisi lawan-lawannya. “Cari gadis itu!” perintah salah seorang dari mereka. ke-empat orang lainnya segera berpencar. Aku benar-benar takut. Keringat dinginku mengalir deras. Kurasakan baju tipis ini benar-benar lembab. Aku diam terpaku. Kuperhatikan seorang dari mereka berjalan kearahku. Semakin lama dia semakin mendekat. Aku semakin gugup. Tubuhku gemetar hebat. Dia menemukanku. “UUAOOY!!” orang itu berteriak keras. Aku pun menerjang tubuh orang itu hingga dia jatuh. Kudengar Orang tadi mengoceh dengan bahasa Jepang. Aku pun berlari sekencang-kencangnya. Namun kemudian aku terjatuh. “Hehehe, perkenalkan, namaku Sniffer.” Kulihat orang pendek dibelakangku. Aku pasti dijatuhkan olehnya, pikirku. Aku berusaha bangkit secepatnya, namun tiba-tiba saja kaki yang sangat besar menginjak kepalaku. “Aaah!” jeritku kesakitan. “Berani sekali kau lari dari kami.” Seseorang yang lain berkata. “Jika kau lari lagi dari kami,” salah seorang Jepang itu berkata-kata dengan bahasa Indonesia yang belum sempurna. “Aku akan menembak kepalamu!”
Mereka kembali menggotongku. Diperjalanan jauh itu aku hanya menngis tanpa suara. Mereka sama sekali tidak bersuara. Akhirnya setelah beberapa lama kami tiba di sebuah mobil limosin hitam. Tanker melemparku ke atas kursi mobil itu. Kelima orang itu pun masuk. “Mari sedikit menikmati pelacur ini sebelum dijual.” Seseorang berkata. “HAHAHA!!! MARI BERCINTA!” suara Tanker keras sekali. Aku tahu ini memang akan terjadi. Mereka sekarang mengelilingi tubuhku yang terbaring di kursi mobil itu. Kurasakan seseorang memegangi payudaraku. “Hmm, besar sekali.” Kudengar suara Sniffer yang juga khas, “Berapa ukurannya?” dia bertanya kepadaku. Aku diam saja. Aku lelah sekali. “BERAPA UKURANNYA!?” Sniffer membentakku. “36D” jawabku pelan. Segera saja dia merobek baju tipisku itu. “Hah.. hah.. hah..” aku mulai mendesah pelan. Sniffer kini menjilati pentilku sambil meremas-remas payudaraku yang lain. Kurasakan seseorang yang lain kini menggesek-gesek vaginaku. “Aku suka yang tidak berbulu.” Gumamnya. Orang itu pun memasukkan jarinya kedalam vaginaku. “Ah,, ah,, ah,, hah,,” aku mendesah makin kuat. Dimaju-mundurkannya jarinya kedalam vaginaku dengan cepat. “Pasti gerombolan tadi yang memerkosamu.” Gumam oran itu lagi. Iya, pikirku. Tiba-tiba saja kedua orang Jepang tadi mengeluarkan penisnya. Penis mereka panjang sekali dengan kepala berwarna merah cerah. “Tolong, kamu, layani, kami.” Salah seorang Jepang itu berkata patah-patah. Aku tidak tahu maksud mereka. kuputuskan untuk mengocoki penis kedua orang itu. “Oh.. kamu mahir sekali.” Orang Jepang yang ini lebih lancar bicaranya. “HAHAHA! AKU SUDAH TELANJANG BULAT!” Tanker berteriak. Dia memang telanjang. “Hei, hei. Untuk apa kamu telanjang bulat begitu?” Sniffer bertanya. “HAHA! Bercinta kan memang harus telanjang!” dia berseru, “ISAP PENISKU!” Tanker membentakku. Kupandangi penisnya yang benar-benar sangat besar. Mulutku tidak muat, pikirku. Kuputuskan hanya menjilati penisnya. “HAHA! MENYENANGKAAN!” Tanker teriak lagi. “Ehm, ehm, mmh,” gumamku sambil menjilati penisnya. Sniffer kini meremas-remas payudaraku dengan keras. “Belum ada susunya.” Dia bergumam. Diisapnya kedua pentilku bersamaan. “AH.. AKH..” aku mendesah keras saat Sniffer menggigit putingku. “Hei! Tetap jilati penisku!” Tanker berseru. “Jangan cemburu, Tanker.” Kata Sniffer. “Oh, ohm, okh, oh, oh.” Kedua Orang Jepang itu bergumam-gumam. Penis mereka berdenyut-denyut keras. Mereka sudah mau keluar, pikirku. Benar saja, sperma kedua orang itu langsung menyembur wajahku. “Arogatou gozaimasu” seru salah satu dari mereka. “Terima, kasih.” Si Jepang yang lain menambahkan. Kedua orang Jepang tadi langsung pergi kekursi kemudi dan menjalankan mesin. “Kita, sudah, akan, berangkat.” Patah-patah si Jepang berkata, “Tujuan, berikutnya, bandara.”
“Aku sudah tak sabar ingin merasakan vaginanya.” Seorang yang aku tak tahu julukannya ini berkata. Dia mengeluarkan penisnya yang sudah berdiri. Digesek-gesekkannya penisnya ke mulut vaginaku. Tak berapa lama dia langsung memasukkan penisnya sedalam-dalamnya. “AAAKH!” aku menjerit kesakitan. Tanpa ampun dia langsung menggerak-gerakkan penisnya dengan cepat. “AH.. AH.. AH.. AH..” aku mengerang kesakitan. Dia kasar sekali, pikirku. “Wah, wah. Dasar Tower, bercinta tetap saja tanpa penetrasi.” Sniffer mengejeknya. Gerkakan penis si Tower mulai melambat. Kemudian penisnya benar-benar berhenti hampir diluar vaginaku. Namun itu tidak lama, tiba-tiba saja penisnya menerkam kedalam vaginaku dengan satu gerakan yang sangat cepat. “AAAAAAAH…” aku menjerit keras. Tower menarik penisnya lagi. Dan dengan selang waktu, penisnya menerkam vaginaku lagi. Aku kembali menjerit kuat. Tanker yang dari tadi kuabaikan, sekarang menggenggam kedua payudaraku dengan keras. “Minggir!” serunya kepada Sniffer yang dari tadi asik meremas-remas dadaku. Tanker menjepitkan penisnya diantara dadaku. Penisnya yang besar itu ternyata sanggup juga dijepit dengan sempurna oleh payudaraku. Tanker lalu menggerak-gerakkan payudaraku maju mundur mengocoki penisnya. “INI LEBIH MENYENANGKAAAN!” dia menjerit. Dadaku rasanya sakit sekali digenggam dengan sangat keras dan menjepit penis yang juga sangat keras. Sniffer yang digusur Tanker kini memasukkan penisnya kemulutku yang terbuka karena berteriak. “AAAAHHmmmm” teriakkanku tertahan penisnya. “MMMHH.. MMMHHH…” aku mendesah-desah kuat. “Aku pasti akan sering datang ke hotelmu nanti, cantik.” Si Sniffer berumam.
Kurasakan penis tower berdenyut. Dia mau keluar, pikirku, Tapi aku belum diberi obat anti-hamil. Tower tetap memaju-mundurkan penisnya denyutan penisnya makin keras tapi dia juga makin cepat. “Tidaak, kumohon jangan keluarkan didalam.” Aku memohon seraya melepas penis Sniffer dari mulutku. “Hei, ayo isap lagi.” Sniffer memaksa kepalaku ke arah penisnya. Kemudian, dengan satu gerakan yang sangat cepat tower menarik penisnya keluar dari vaginaku dan menembakkan spermanya dibibir vaginaku. Tower tersenyum puas. Cepat sekali tadi, pikirku kagum. “Soal timing, Tower memang jagonya.” Sniffer memberitahuku. “Ah, tadi itu menyenangkan sekaligus melelahkan.” Tower bergumam layaknya orang yang habis bekerja keras. “Wah, wah. Sayang sekali vaginanya dibiarkan menganggur.” Sniffer tertawa kecil. Kemudian si Jepang yang dari tadi menemani supir di depan, tiba-tiba sudah ada didepanku. “Biar aku saja yang bercinta.”
“Ingat, Slugger, jangan keluarkan didalam.” Sniffer memperingati si Jepang. “Haik” jawabnya singkat. Si Jepang ini juga langsung memasukkan penisnya dalam-dalam, namun dengan gerakan yang lebih lambat. “hhhh, hhh,” aku tetap merasa sakit. Si Jepang mulai menggoyangkan pinggulnya. “hhh… hhh… hhh…” desahku tertahan penis dimulutku. “Hmmm.. Aku bosan..” Tanker tiba-tiba bergumam. Ditariknya penis raksasanya dari antara payudaraku dan dipikul-pukulkannya penisnya ke dadaku naik turun. “Huuh, ternyata bercinta itu membosankan.” Tanker bergumam lagi. “Hahaha, kamu belum mencoba vaginanya kan?” kata Sniffer. “Vaginanya?” Tanker bergumam, “Kenapa tidak dari tadi kamu katakan itu, sniffer!” sekarang Tanker bergerak menuju selangkanganku. “Minggir, cipit!” si Jepang digusur. “HAHAHA! AKU AKAN HABISI VAGINANYA!” Tanker berteriak keras sekali. Ditempelkannya penis raksasa itu kebibir vaginaku. “Tidak, kumohon.” Aku takut sekali penis raksasa itu merobek vaginaku. “AAAAAAAAAAAAHHHHHH,,,,,” aku menjerit seketika dia memasukkan sebagian penisnya dengan paksa. “HAHAHA! RASANYA ENAK SEKALI!” jeritan Tanker makin keras. “Jangan berisik, Tanker!” seru Tower. Penis Tanker yang tadinya hanya seperempat yang masuk, kini dipaksa masuk seluruhnya. “AAAAAAAAAKKHHHH,,,” Aku menjerit sejadi-jadinya, namun segera terhenti oleh sperma Sniffer yang mengguyur mulutku. “Telan semuanya, sayang.” Sniffer memerintahku. Aku tak menurutinya. “Telan.” Sniffer berkata dingin sambil menodongkan pistol kearah dadaku. Dengan terpaksa aku menelan sperma yang masih tersisa dimulutku.
Penis raksasa Tanker dibiarkan pemiliknya tetap bersarang di vaginaku. Dia tidak menggerak-gerakkannya dan itu juga memberi rasa sakit. “hah, hah. Kumohon, jangan.” Aku memohon dengan suara berbisik. Si Jepang yang tadi digusur kini sibuk menggesek-gesekkan pentilku dengan penisnya. “Mengapa, penis, kamu, tidak, bergerak, Tanker?” si Jepang yang mengendarai mobil bertanya patah-patah. “Hah? Memangnya harus digerakkan?” Tanker bertanya balik dengan polosnya. Si besar ini ternyata berotak kopong, kataku dalam hati. “Hahahaha, tentu saja.” Tower tertawa renyah. “Bilang dong dari tadi!” segera saja Tanker menggerakkan pinggulnya. “AAAAAAAKKHHH,, AAAKHH,, TIDAAAK,, KUMOHON,, SAKIIIT,,, AAAAH…” aku menjerit keras sekali menahan sakit di vaginaku.”HAHAHA, ENAK SEKALII!” Tanker juga berteriak. “Kalian jangan berisik, kita sudah masuk kota.” Tower memperingati kami. Penis tanker sepertinya mulai berdenyut. Dia pun menambah kecepatannya. “AAH, AAH, AAH, AAH, JANGAN, AAH, KUMOHON,, AAH,, HHAAH..” jeritan-jeritanku mengikuti irama genjotannya. Denyut penis Tanker makin keras. Tubuhku pun mengejang lagi. “HAHAHA. ENTAH KENAPA JADI SEMAKIN LICIN!” Tanker senang sekali. Gerakan penisnya makin cepat. “Melihat permainan kalian, aku jadi horny lagi nih.” Tower tiba-tiba sudah berada di sisiku. “Kocok penisku.” Dia berkata sambil menodong pistol. Aku terpaksa melakukannya. Kukocok penisnya pelan-pelan. “Kocok sambil isap penisku!” itu perintah keduanya sambil tetap menodong pistol. Kumasukkan penisnya kemulutku sambil tanganku mengocokinya.”Hahaha. Sepertinya penisku mau mengeluarkan sesuatu.” Tanker bergumam. “TARIK PENISMU KELUAR!” Sniffer tiba-tiba teriak. Tanker melakukan perintahnya, dan segera saja sperma yang sangat banyak menyembur keluar. Si Jepang yang sedang memainkan payudaraku juga terkena semburannya. “KURANG AJAR!” si Jepang itu berteriak dengan logatnya dan langsung menerkam Tanker. Mereka berdua berkelahi.
“Mainkan lidahmu juga dong.” Tower berkata. Kujilati ujung kepala penisnya yang memang ada di mulutku. “Aaah, menyenangkan sekali..” dia bergumam. “ Jangan cuma ujungnya saja dong, batangnya juga harus kamu jilati.” Pistolnya masih tertodong. Kukeluarkan penisnya dari mulutku dan kujilati daerah di bawah kepala penisnya. “Jangan cuma pakai lidah dong, pakai bibir juga.” lagi-lagi dia memerintah. Kubuka mulutku dan kutempelkan bibirku di batang penisnya. Tower memegangi kepalaku dan menggerakkannya naik turun di batang penisnya. “Gerakkan seperti ini” kemudian di menuntun tanganku kearah testisnya. “Genggam. Tapi jangan terlalu keras.” Dia berkata. Kupegangi testisnya sesuai perintah sambil tetap menggerakan kepalaku mengikuti batang penisnya. “hh, hh, hh,” napasku pasti terdengar sangat keras. Tak berapa lama kemudian, penis Tower mulai berdenyut. “Oh, sedikit lagi, sedikit lagi.” Dia bergumam-gumam, “lebih cepat, sayang.” Dia memerintah sambil mendesah-desah. Kutambah kecepatanku dan kemudian dia berkata, “Oh, aku sudah mencapai batasnya. Buka mulutmu.” Dia menarik penis dan testisnya. Diarahkannya pnis itu kemulutku yang terbuka dan sperma cair mluncur kemulutkku. Sebagian malah mengarah ke pipi dan mataku. “Ah, tak pernah aku keluar dua kali sehari.” Tower berbisik pelan padaku, “Kau lonte yang sangat menawan, sayang.”
“Kita akan memasuki daerah bandara, harap semua bersiap-siap.” Sniffer yang menggantikan posisi Tower di bangku depan memperingatkan. “Pakailah ini.” Tower membuka sebuah koper kecil. Aku mengambil isi koper itu yang ternyata adalah pakaian. Mewah sekali, pikirku. “Kau harus menyamar sebagai wanita terhormat selama di bandara dan pesawat.” Sniffer menambahkan. Aku mulai memakai baju itu. Badanku kini sudah bersih dari sperma orang-orang ini. Si Jepang yang mereka sebut Slugger membersihkan seluruh badanku dengan tisu basah yang harum setelah selesai berkelahi dengan Tanker. Ukuran pakaian itu benar-benar pas dengan ukuran tubuhku. “Kamu, benar, benar, cantik, nona.” Si Jepang yang berada di kemudi bergumam patah-patah. Sepertinya dia melihatku dari cermin spion. “Terima kasih.” Jawabku pelan sambil tersenyum, “Aku akan dijual kemana?” aku bertanya lirih. “Itu tergantung siapa yang akan menawar paling tinggi.” Tower berkata. Aku akan dilelang? Tanyaku dalam hati. “Pelelangan tubuhmu ini dikarenakan Yokohama Royal Hotel tidak setuju dengan harga yang kami minta.” Sniffer menambahkan. “YRH sangat pelit. Mereka akan menyesal!” Slugger berkata. “Pelelangan gelap akan dimulai seminggu lagi. Kita masih punya banyak waktu.” Jelas Tower, “Selama seminggu itu kau akan bekerja di café-café sex sebagai penari striptease.” Mendengar itu, aku lantas berpikir, aku kan gak bisa menari. “Satu hal lagi, Sniffer berkata,” jangan katakan apa pun pada siapa pun yang kau temui di bandara maupun di pesawat nanti! Jika itu kau langgar, pisau yang berada di bajumu itu akan menusuk jantungmu.”
****
Kami sudah berada di dalam pesawat. Ternyata mereka sudah membeli tiket untuk enam orang. Mereka duduk sebaris, sedangkan aku duduk dibelakang mereka. betapa terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa orang yang duuk disebelahku adalah teman sekelasku. “Lho, Na? kamu kok disini?” dia bernama Andari. “Eh, Andari, ngapain kamu di sini? Kan belum liburan.” Aku berusaha tenang. “Itukan yang aku tanyakan ke kamu.” Dia terlihat bingung, “Orang tua mu terus menangisimu karena kamu ga pulang-pulang loh. Eh, kamu malah enak-enakkan dipesawat. Pakai baju mewah pula.” Dia terus saja menyerocos. Aku hanya terdiam kaku. “Kamu kemana aja?” dia bertanya antusias. Aku hanya membisu karena takut mati di tempat. Andari kali ini mengambil handphonenya. “Aku akan menelepon orang tuamu.” Dia berkata. Bagus juga itu, pikirku. Namun kemudian pramugari yang sedang berjalan menegurnya. “Mbak, pesawat akan segera berangkat. Handphone nya harrus dimatikan sekarang. Maaf mbak.”
Wah, sial, pikirku. Selama perjalanan aku pun hanya terdiam walaupun Andari terus menanyaiku. “Ah, aku udah capek nanyain kamu.” Dia menyerah. Aku tidak berani menatap wajahnya. Kami pun saling berdiam diri hingga akhirnya tiba di bandara Jepang. Semua penumpang bergegas mengambil barang-barangnya di bagasi atas kecuali aku. Andari pergi begitu saja tanpa memberi salam padaku. Aku dan pria-pria tadi tetap duduk menunggu penumpang sampai turun seluruhnya. “Bagus, nona.” Tower berbisik padaku. Kemudian dia berkata pada si Jepang “Kill that kid who had spoken with this girl and her parents.”?
KONTOL ORANG JEPANG (79)cerita dewasa memaksa memasukkan nikmat (24)kontol raksasa (17)Pelacur diperkosa telanjang (12)cerita vaginaku dientot 4 orang bule (4)Cerita perkosa rame rame sambil diculik (4)memberiku rok mini (4)www Cerita sek jangan di keluarkan di dalam (3)cerita vaginaku dipaksa (3)cerita dewasa lesbian dengan pelacur (3)






