Rambut Tante SRI yang Indah

Indah rambutmu mengurai kata cinta Tiada indah dunia tanpa kehadiranmu.. Itulah sebait potongan lagu yang dinyanyikan kelompok musik Kahitna yang berasal dari Bandung. Lagu ini memiliki kenangan tersendiri dengan kisahku berikut ini. Ini merupakan kisah nyata, yang kualami ketika aku masih kuliah dulu. Namaku Roy, saat ini aku sudah bekerja di salah satu kantor instansi pemerintah ternama di Ibukota. Cerita ini berawal ketika aku masih kuliah di kota Semarang. Sebut saja namaku Roy, aku anak bungsu dari lima bersaudara.

Selama aku kuliah aku tinggal dirumah Tante Sri yang merupakan teman baik mamiku. Tanteku namanya Sri Wahyuni, aku disuruhnya memanggilnya Tante tapi aku kadang memanggilnya Tante Sri, karena aku sudah dianggap anaknya sendiri olehnya. Tanteku seorang janda tanpa anak, suaminya meninggal karena sakit, dan segala kebutuhanku baikitu biaya kuliah maupun uang saku telah dipenuhi semua olehnya. Tanteku memang tidak terlalu tua umurnya kurang lebih 39 tahun, tanteku ini masih saja kelihatan seksi. Tubuhnya sangat terawat, karena rajin secara teratur mengikuti senam body language. Biarpun sudah kepala tiga tubuh tanteku tetap terawat. Pantatnya yang besar dan pinggulnya yang besar pula tapi pahanya yang putih mulus singset tanpa tumpukan lemak. Payudaranya yang besar, aku masih belum jelas berapa kira-kira ukurannya, tapi yang pasti masih kenyal dan tidak kendor. Satu hal lagi adalah rambutnya yang hitam, lebat, dan panjang sampai ke pantat.Kejadian ini berawal dari kesenanganku melakukan onani. Pada siang itu keadaan rumah pas lagi kosong, sedangkan Tante Sri telah keluar ke supermarket sebentar.
“Lho Roy, kamu lagi ngapain kok tanganya dimasukin dalam celana kayak gitu sih? ” terdengar suara Tante Sri yang tepat berada di depan pintu kamarku.
“Cuma gatal.” jawabku sekenanya
“Kamu ini pagi-pagi sudah begitu, ayo mandi sana dulu biar segar.” Celetuk Tante Sri sambil membereskan tempat tidurku.
“Emang kalau sudah mandi, boleh diterusin Tante…? jawabku sambil memperhatikan wajah Tante Sri.
“Ich.. maunya ya.? jawab Tante Sri sambil mencubit pahaku, kemudian dia keluar dari kamarku sambil tersenyum manja padaku.
Aku sempat berpikir bagaimana ya agar aku dapat menikmati tubuh Tante Sri yang seksi, khususnya rambutnya itu ingin sekali aku memciuminya dan membelainya. Belum selesai lamunanku, Tante Sri telah masuk kekamarku, dengan memakai baju daster tipis tanpa lengan, sehingga payudaranya kelihatan menyembul keluar, dan lekuk-lekuk tubuhnya yang kelihatan sempurna.
“Gimana Roy?, Tante Sri cantik endak kalau pakai baju ini, kamu suka enggak Roy ?” tanya Tante Sri sambil memamerkan daster tipis tersebut kepadaku.
“Bagus Tante.., Tante kelihatan sexy deh, apalagi kalau dipakai tiap hari.” jawabku sambil menutupi kemaluanku dengan bantal agar tidak terlihat dengan Tante Sri, yang sejak tadi pagi sudah gaceng.
“Sungguh kamu mau Tante pakai baju kayak seperti ini setiap hari, Roy?” jawab Tante Sri sambil memandangku, kemudian Tante Sri duduk diranjang tepat di depanku.

Kemudian Tante Sri membuka ikatan rambutnya yang hitam lebat dan wangi tergerai, membuatku berdesir terkena sibakan rambutnya. Kemudian tanganku menyentuh dan membelai rambutnya yang tebal dan halus tersebut, Tante Sri tidak berkata apa-apa, hanya memandangku sambil tersenyum dan membelai keningku, hanya kadang digerak-gerakkan kepalanya, sehingga aku semakin leluasa mempermainkan rambutnya. Sambil terus membelai memainkan rambutnya, imajinasi seksku semakin menjadi-jadi, sampai tiba-tiba lamunanku terhentak oleh suara Tante Sri,
“Kenapa Roy, senang ya sama rambutnya Tante..?’ Jantungku berdetak kencang,
“Eh.. iya, rambut Tante bagus panjang harum lagi” jawabku sekenanya.
“Ah kamu bisa aja, Tante tahu kamu sering perhatiin Tante kalau lagi yisir ya kan?” “Tante kok tahu sih ma?” jawabku sambil bangun dan duduk dekat Tante Sri.
“Iya tahu sih..!” jawab Tante Sri sambil membetulkan dasternya. Tanpa menjawab, aku langsung memeluk Tante Sri dengan lembut, dia mengusap-usap pungungku, dan menciumi leherku dan pipiku. Tubuhku tambah merapat ke tubuh Tante Sri, sementara tanganku membelai-belai rambutnya.
Tegangan semakin tinggi, dan dengan sengaja tubuhku kurapatkan ketubuhnya, sekarang posisinya Tante Sri sedang memangku diriku, kurasakan dadaku bersentuhan langsung dengan kedua payudaranya sekaligus sambil kuciumi lehernya. Tante Sri yang sudah mulai terangsang, dan tanpa berkata apa-apa langsung merebahkan diriku, tangannya sudah mulai bereaksi melorotkan celana pendekku dan celana dalamku sambil menyambar penisku yang sudah tegang, kemudian langsung dikocok-kocok dengan lembut, tidak mau kalah dengan tanteku. Tanganku semakin leluasa meremas-remas rambut dan payudara sekaligus kuciumi rambutnya yang semakin menambah nafsu birahiku. Penisku yang sedari tadi dikocok-kocok dengan lembut, kemudian dia menungging menjilati penisku.
“Auh…uh..!” rintihku menahan kenikmatan yang telah diberikan Tante Sri kepadaku. Penisku dikenyot-kenyot sampai berwarna merah menahan kenikmatan,
“Ah..auh… Tante…, aku sudah nggak tahan Tante…!” Tante Sri bahkan tidak menjawab, malah semakin keras menyedot penisku. Tubuhku semakin mengejang dan tanpa bisa kubendung lagi, keluarlah cairan putih kental ke mulutnya, sambil tergolek lemas tanganku masih tetap menjambak rambutnya yang sudah tergerai tidak beraturan. Tante telan semua cairan spremaku. Tante Sri memelukku, menciumiku, dia tersenyum melihat tingkahku yang salah tingkah.
“Tidak usah takut ya sayang.., gimana rasanya?”
“Enak Tante, tapi Roy takut Tante!” jawabku dengan perasaan belum tenang.
“Sudahlah.., tidak apa apa sayang, Tante tidak mungkin hamil oleh kamu sayang? Tante mandul sayang, sudah kamu tenangkan dulu pikiranmu, nanti Tante ajari yang lebih enak.”
Kemudian dia menciumku dengan lembut, membuka dasternya sehingga terlihatlah payudaranya yang besar ( Tante bilang ukurannya 36B), puting susunya kecil tapi menonjol seperti buah kelereng yang berwarna coklat kemerah-merahan.
“Roy sayang sini pegang payudaranya Tante gih.!”
“Iya Tante?” jawabku kemudian langsung aku pegang membelakangi, jadi Tante dapat bersandar ditubuhku, sedangkan aku dengan leluasa menciumi rambutnya dan kedua tanganku meremas-remas payudaranya, penisku kedekatkan ke pungung Tanteku. Rupanya Tante tahu yang kumaksud, Tante gusel-guselkan rambutnya persis dikepala penisku rambutnya yang lebat dan harum berserakan menutupi penisku. Kemudian aku putar tubuh Tante, kuciumi bibirnya lama sekali hampir lima menit kulakukan, kemudian kuciumi payudaranya kiri dan kanan dan kuremas-remas terus bergantian.
“Aghhh…, aghhhh…, aghhh…” Suara itu keluar dari mulut tanteku di iringi dengan suara dari mulutku yang terus menghisap kedua payudaranya (Tante tidak memperbolehkan aku menghisap vaginanya, dikarenakan Tante mengangap kotor dan jijik aku sih oke-oke aja sih). Begitu seterusnya hingga,
“Udahhh,aghh,aghh.. masukin aja punya kamu sayang”. Aku rebahkan tanteku kemudian kusibakan rambutnya kedepan sehingga payudaranya tertutup rambutnya, kuelus-elus vaginanya Tante yang sudah basah dan merah, penisku dipegangnya dibimbingnya masuk kelubang tersebut.
“Sleb… sleb…!” Sambil kupompa, kuputar-putar di dalam mengikuti gerakan pantat Tante, sambil terus memompa bibirku dan bibir tanteku bertahutan terus seperti sepasang kekasih yang tidak mau lepas sedangkan tanganku meremas-remas payudaranya yang masih tertutup rambutnya.
“Aduh… Roy, terus… Roy” sambil tangan Tante meremas pantatku. Penisku semakin mengeras, sementara vagina Tante terasa berdenyut. Mungkin sudah sekitar lima belas menit kami berpautan.
“Oh.. Roy.. oh.. sayang.., aduh enak Roy…Tante nggak tahan say..” rintih Tante.
Akupun semakin bernafsu memompa penisku ke vagina Tante. sampai kedua tubuh kami mengejang dan memyemburlah cairan spermaku yang kedua kalinya di vagina tanteku, kami berdua telah menikmati puncak orgasme sampai benar-benar habis, dan baru kucabut penisku setelah kami kelelahan. Kemudian Tante bangun menjilat-jilat penisku dan membersihkan sisa spermaku. Setelah itu kami berdua menuju ke ruang tengah, aku duduk membelakangi Tante Sri dalam keadaan telanjang bulat.
“Bagaimana Roy, puas enggak sama Tante..?” tanya Tante Sri sambil menarik tanganku kemudian meletakkannya di payudaranya.
“Enak Tante, punya Tante enak Tante, makasih ya Tante” sahutku
“Tante senang, bahagia kalau sayang puas. Tante sebenarnya sudah lama pingin sama Roy, tapi Tante takut.., iya kalau mau, kalau enggak tante kan yang malu sayang.”
“Cium Tante sayang”.
“Emh… uah… emh… uah, rambut Tante cium juga dong sayang emh… uah” sahut Tante sambil tersenyum manis padaku.
“Tante, Roy sayang sama Tante… emh… uah”
“Iya, Tante juga sayang kok ama Roy, tapi Roy ? Tante masih pingin, Roy mau engak..?” tanya Tanteku manja sambil memegang penisku
“Jelas mau dong tante, Roy kan sayang banget sama Tante,tapi Tante janji ya sama Roy”. “Janji apa sayang”
“Rambut Tante yang panjang ini, jangan dipotong ya.. Tante, ya… Roy suka Tante” jawabku. Kulihat Tante menyibakkan rambutnya kedepan tergerai memenuhi dadaku, harum wanginya . dengan tersenyum Tante menjawab
“Iya ini buat anak Tante yang tersayang kok, Tante janji tidak akan Tante potong justru nanti mau Tante panjangin buat Roy, tapi nanti Roy yang nyisirin rambut Tante tiap hari ya sayang”
“Terus anak Tante minta apa lagi ya… ama Tante” sambil mencium bibirku.
“Roy mau Tante pakai baju yang sexy, soalnya Roy seneng liat payudaranya Tante yang besar itu sama lihat vaginanya Tante yang banyak bulunya itu… lho tante?” kataku sambil memegang payudaranya dan vaginanya Tante.
“Uuhh… nakal ya sama Tante, iya Tante nanti tiap hari pakai baju yang sexy, kalau tidak Tante biar tidak pakai baju aja biar anak Tante seneng bisa liat punya tantenya, Roy sayang juga boleh kok…, menyetubuhi Tante tiap hari, pokoknya…? kapanpun Roy mau..? dimanapun…? Tante siap gelayani Roy…ya sayang.., sudah Roy tidak ada permintaanS lagi sayang…?”
“Enggak Tante, Tante makasih ya Tante, Roy sayang sama Tante” sahutku sambil memandang tanteku.Setelah beristirahat, kami melanjutkan persetubuhan kami sampai jam 3 pagi.
Setelah itu kami tertidur dalam keadaan telanjang bulat, keesokan harinya kami lakukan lagi persetubuhan tersebut dan tidak terhitung berapa kali kami bersetubuh.

cerita tante sri ngewe (1)